Beranda > Kisah" Islami > Inipun akan berlalu

Inipun akan berlalu

Seorang pengembara yang telah lama mengarungi padang pasir yang keras akhirnya sampai ke sebuah desa yang berperadaban. Desa itu bernama Bukit Pasir. Hampir tak ada tanaman hijau tumbuh di desa itu, hanya ada rerumputan kering dan semak belukar dimana-mana. Beternak adalah mata pencarian utama penduduk desa.

Dengan sopan, sang pengembara bertanya kepada salah seorang penduduk desa yang ditemuinya ihwal apakah ada tempat untuk mencari makan dan menginap di desa itu.

“Kami tak punya tempat seperti itu di sini,” jawab si penduduk desa, “tapi saya yakin, jika anda datang ke tempat Syakir, ia akan sangat gembira menjamu anda malam ini.” Kemudian lelaki itu menunjukkan tempat tinggal Syakir kepada sang pengembara.

Sambil berjalan bersama, sang pengembara bertanya kepada lelaki itu siapakah Syakir. Penduduk desa itu lalu menjelaskan bahwa Syakir, sesuai namanya yang berarti ‘orang yang sangat banyak bersyukur’, adalah orang terkaya di daerah itu sekaligus juga orang yang sangat dermawan. Kekayaan Syakir sangat berlimpah, bahkan melebihi kekayaan Hadad, seorang saudagar ternak dari desa sebelah.

Tak lama kemudian, sang pengembara pun telah berdiri di depan rumah Syakir yang megah. Ternyata benar, Syakir adalah orang yang sangat baik hati dan ramah. Begitu juga istri dan anak-anaknya. Setelah menjamu sang pengembara, Syakir bahkan memintanya untuk menginap beberapa hari di rumah itu. Pada hari terakhir menjelang keberangkatannya, Syakir memberikan banyak bekal makanan dan air minum bagi sang pengembara.

Sebelum berpisah, sang pengembara berkata kepada Syakir, “Syukurlah, engkau memang sangat beruntung.”

Syakir lalu menjawab, “akan tetapi wahai sahabat, janganlah engkau tertipu dengan apa yang tampak, sebab ini pun akan berlalu.”

Selama bertahun-tahun berpetualang, sang pengembara pun paham bahwa segala sesuatu yang didengar dan dilihatnya dalam pengembaraan, adalah mengandung hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik manfaatnya serta pantas untuk direnungkan. Sesungguhnya, alasannya untuk melakukan pengembaraan memang adalah untuk belajar lebih banyak lagi. Kata-kata Syakir telah mengusik benaknya, dan ia tidak yakin bahwa ia telah menangkap maknanya.

Ia pun telah paham, bahwa jika ia diam dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, maka pada akhirnya ia akan mendapat jawaban. Sebab ia telah belajar untuk diam dan tidak mengajukan pertanyaan; manakala tiba waktunya, ia akan mendapatkan sebuah pencerahan. Maka ia pun semakin menenggelamkan dirinya dalam hening dan tafakkur.

Selama lima tahun ia terus mengembara, menyusuri berbagai tempat, keluar masuk negeri dan kota. Sampai pada akhirnya, secara tak terduga, ia tiba kembali di Desa Bukit Pasir yang pernah disinggahinya beberapa tahun sebelumnya. Ia ingat sahabatnya, Syakir, lalu bertanya kepada penduduk desa.

“Syakir sekarang tinggal di desa sebelah. Ia kini bekerja pada Hadad,” jawab penduduk desa. Sang pengembara pun terheran-heran. Ia ingat, Hadad adalah orang terkaya di desa sebelah. Sang pengembara lantas bergegas pergi ke desa itu.

Sesampainya di rumah Syakir, ia melihat Syakir menyambutnya dengan pakaian lusuh yang sudah compang-camping. Meski tetap ceria dan ramah, Syakir tampak lebih kurus.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya sang pengembara penasaran. Syakir mengatakan bahwa tiga tahun yang lalu terjadi banjir besar di desanya yang menyapu seluruh kekayaan dan hewan ternaknya. Untuk menyambung hidup, kini ia bekerja pada Hadad yang kebetulan selamat dari musibah itu. Hanya saja, meski telah jatuh miskin, keramahan dan kedermawanan Syakir tak berubah. Ia menjamu sang pengembara beberapa hari, lalu ketika tiba saatnya berpisah, ia membekali sang pengembara dengan banyak bekal makanan dan air minum.

Ketika hendak berpisah, sang pengembara berkata, “aku sangat bersedih akan kemalangan yang menimpamu.”

“Oh, terima kasih. Tetapi ini pun akan berlalu,” jawab Syakir.

Kata-kata ini terus terngiang di benak sang pengembara. Ia bertanya-tanya dalam hati, apa maksud dari kata-kata Syakir yang optimis itu.

Bulan, tahun berlalu, dan sang pengembara terus tanpa lelah melanjutkan perjalanannya. Anehnya, pola perjalanan yang di tempuhnya selalu membawanya ke desa tempat tinggal Syakir. Kali ini, sesudah tujuh tahun berselang, ia menjumpai Syakir dalam keadaan sangat kaya. Kini Syakir menempati tempat tinggal Hadad.

“Hadad meninggal beberapa tahun yang lalu. Karena ia tak memiliki keturunan, maka seluruh kekayaannya diwariskan kepadaku sebagai balasan atas kesetiaan pengabdianku.”

Ketika kunjungan berakhir, sang pengembara pun berpamitan. Perpisahan dengan sahabat tuanya itu tidak berbeda dari yang lainnya. Syakir mengulangi ucapan kesukaannya, “Ini pun akan berlalu.”

Bertahun-tahun kemudian, kehendak takdir yang di luar jangkauan akal manusia akhirnya menuntun perjalanan sang pengembara menuju desa tempat tinggal Syakir kembali. Disana, bukannya bertemu dengan sahabat tuanya yang bijak itu, ia malah menemukan sebuah nisan sederhana yang terukir tulisan “Ini pun akan berlalu.”

Kali ini, lebih takjub dari sebelumnya, sang pengembara merenung, “kekayaan datang dan pergi,” pikir sang pengembara, “tapi bagaimana mungkin sebuah makam bisa berubah?”

Sejak itu, sang pengembara bertekad untuk menziarahi makam Syakir setiap tahun. Ia biasa merenung berjam-jam di tempat itu. Akan tetapi, pada salah satu kunjungannya, ia mendapati makam itu telah hilang, tersapu oleh banjir. Kini sang pengembara yang telah beranjak tua itu pun kehilangan satu-satunya jejak yang bisa mengingatkannya pada sahabat tuanya yang sangat bijaksana. Setelah sang pengembara merenungi seluruh makna dari peristiwa ini di tempat itu selama berjam-jam, ia pun menemukan sebuah makna agung, ia tercerahkan kini. Akhirnya ia menengadahkan kepalanya ke langit, menganggukkan kepala dan berucap lirih, “Ini pun akan berlalu.”

Sewaktu akhirnya sang pengembara bertambah tua dan sudah tak mampu lagi melakukan perjalanan, ia pun menetap di tanah kelahirannya untuk menjalani kehidupan dengan tenang dan damai. Tahun demi tahun berlalu ia gunakan untuk menolong dan memberi manfaat kepada sesama yang membutuhkan bantuannya. Orang-orang dari segenap penjuru berbondong-bondong mendatanginya, untuk memperoleh manfaat dari hikmah dan kebijaksanaannya. Akhirnya, ketenaran namanya terdengar oleh penasehat agung raja yang memang tengah mencari seorang yang arif dan bijak.

Sebenarnya, raja ingin dibuatkan sebuah cincin. Cincin ini haruslah istimewa: cincin itu harus diukir dengan tulisan sedemikian rupa sehingga jika raja sedang bersedih, ia bisa melihat cincin itu dan membuat dirinya bahagia, dan jika raja sedang terlalu bahagia, ia bisa melihat cincin itu untuk mengingatkannya agar tidak lupa diri.

Tukang-tukang cincin terbaik pun dipanggil, dan banyak sudah yang mengajukan usulan mengenai cincin itu. Akan tetapi tak ada satu pun yang disukai oleh raja. Karenanya, penasehat agung kerajaan menulis surat kepada sang pengembara dan menjelaskan keadaannya. Ia meminta sang pengembara untuk datang ke istana agar membantu mereka. Tanpa meninggalkan rumahnya, sang pengembara mengirimkan jawaban untuk sang penasehat raja.

Beberapa hari kemudian, sebuah cincin indah tampak telah dibuat dan dipersembahkan kepada raja. Sang raja yang telah beberapa hari bersedih dan bermuram durja, memasang cincin itu dengan perasaan enggan dan memandanginya dengan sorot mata kecewa. Kemudian ia tersenyum, dan tak lama kemudian ia tertawa. Di cincin itu terukir tulisan, “INI PUN AKAN BERLALU.”

sumber: Syaikh Fariduddin Al Atthar, Kitab Manthiquth Thair (Percakapan Burung-burung)

Kategori:Kisah" Islami
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: